Sabtu, 26 Februari 2011

Pengantar Metodologi Penelitian

 

1. Pendahuluan

Membicarakan metodologi sebagai sistem berpikir pada umumnya sebenarnya sama halnya membicarakan eksklusivitas potensi ruhaniah manusia sendiri. Oleh karena itu persoalan metodologi menjadi menarik dan memperoleh status signifikansinya justru terkait dengan prinsip-prinsip umum regularitas kognisi manusia. Ini berarti dalam konstitusi ruhani manusia terdapat norma-norma epistemis yang harus ditaati oleh manusia sendiri demi memenuhi kodratnya sebagai makhluk yang memegang amanah historis.Tentu tanpa kesukaran sebenarnya memasukkan pembahasan metodologis ke dalam peta kognisi manusia. Namun, ketika perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia tidak lagi sekedar memproyeksikan kebutuhan epistemis yang alamiah, persoalan metodologis menjadi tuntutan baik normatif maupun historisitasnya. Sebab ketika evolusi kesadaran manusia (terutama dengan bentuk sain-teknologis)  telah mencapai status hegemonis baik terhadap alam dan lebih-lebih terhadap dirinya sendiri, persoalan metodologis menjadi wilayah advokasi (justice area) yang menentukan ketepatan dan kebenaran suatu pemikiran.Sesuai dengan beban makalah ini yang hanya mendeskripsikan persoalan elementer tentang metodologi, maka pembahasannya hanya akan diorientasikan kepada beberapa hal: Apa dan bagaimana metodologi itu?, apa relevansinya mempelajari metodologi?. 

2. Metodologi, Aspek-Aspek, Dan Urgensitasnya

Metodologi secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari tentang metode-metode.[1] Sedangkan metode sendiri secara umum dapat diartikan sebagai cara bertindak menurut sistem aturan tertentu. Sehingga dengan menggunakan metode suatu tindakan atau kegiatan dapat terlaksana secara rasional dan terarah, serta hasilnya dapat tercapai secara optimal. Barangkali implementasi metode ini terdapat dalam prinsip manajemen klasik model POACE (Planning, Organizing, Actuating, Controlling, and Evaluation). Adapun secara teknis istilah metode sering dikaitkan dengan tindakan ilmiah yang berarti sistem aturan yang menentukan jalan untuk mencapai pengertian baru pada bidang ilmu pengetahuan tertentu. Dengan demikian metodologi dapat diartikan sebagai analisa dan penyusunan asas-asas dan jalan-jalan yang mengatur penelitian ilmiah pada umumnya serta pelaksanaanya dalam ilmu-ilmu khusus.Sebagai disiplin ilmu yang mandiri, metodologi dalam orientasi kerjanya mengadakan generalisasi dari fakta-fakta metodis yang terdapat dalam ilmu-ilmu khusus, serta menempatkan kekhususan metodis suatu ilmu dalam kekhasan obyek atau bidangnya. Dengan demikian kerangka kerja metodologi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dari metode-metode keilmuan yang ada.Kajian terhadap metode-metode dapat dilaksanakan pada tingkat operasionalitas metodis (aspek metodis) yang dipergunakan dalam ilmu-ilmu khusus. Dari kajian ini diperoleh manfaat dapat menentukan hubungan  di antara ilmu-ilmu yang ada, serta dapat menguji dan membersihkan metode-metode khusus, atau mungkin dapat menggolongkan secara tipikal ilmu-ilmu yang ada berdasarkan beberapa metode yang pokok.Kajian terhadap metode-metode ini dapat juga dilaksanakan pada tingkat konseptualitas (aspek logis). Pada tingkat ini metode-metode dipahami sebagai prosedur penalaran yang mendasari setiap konsep atau teori-teori yang dibangun oleh suatu disiplin ilmu tertentu. Manfaat dari kajian ini ialah mengetahui ketepatan logis setiap antar konsep dan teori, serta dapat menentukan penggunaan model logika yang dipergunakan dalam setiap ilmu yang ada. Dan kajian terhadap metode-metode ini juga dapat dilaksanakan pada tingkat kefilsafatannya (aspek filosofis). Pada tingkat ini metode-metode dipahami sebagai karakteristik dari hakekat pengetahuan manusia atau epistemologis. Dalam kajian ini dibahas kategori-kategori umum dari pengetahuan manusia, mengelompokkan ilmu-ilmu khusus ke dalam jenjang bidang-bidang pengetahuan manusia, menganalisis setiap istilah teknis dan prosedur kerja metode-metode serta perkembangan teori-teori ilmu pengetahuan yang ada. Dari kajian ini manfaat yang diperoleh adalah dapat menentukan karakteristik epistemologis sebagai dasar bagi operasionalisasi metode-metode yang ada. Misalnya, metode matematika yang menggunakan dalil-dalil tautologis sebagai aksioma-aksioma dasarnya pada dasarnya menggunakan pengetahuan yang diperoleh secara deduktif-a priori yang bersifat rasional. (pure rational). Sehingga penggunaan analisis untuk mengkaji metode ilmu matematika dapat didasarkan pada asumsi-asumsi kaum rasionalisme. Metode ilmu pengetahuan alam menggunakan dasar-dasar induksi- aposteriori dalam metodenya yang pada dasarnya menggunakan asumsi-asumsi pengetahuan yang bersifat empiristis. Sehingga penggunaan analisis terhadap metode ilmu ini dapat dilakukan melalui asumsi-asumsi yang dipergunakan oleh kaum empirisme. Demikian juga tentang ilmu keagamaan, misalnya yang menggunakan dasar-dasar pengetahuan deduktif-normatif  dapat dianalisis berdasarkan asumsi-asumsi fenomenologis.dan lain sebagainya. Dari aspek ini dapat juga diperoleh manfaat dapat mengetahui penggunaan istilah/terminologis dari metode yang dipergunakan dari ilmu-ilmu yang ada. Misalnya, dalil tautologis dari matematika, induktif naif, induktif komplit, observasi, paradigma, postulasi, verifikasi, falsifikasi dan lain sebagainya dari ilmu pengetahuan alam. Dan manfaat yang besar dari kajian ini adalah diketahuinya proses perkembangan dari teori-teori atau paradigma pengetahuan yang ada, baik dalam skala evolusi hingga revolusi. Mengetahui hubungan ilmu dan ideologi dalam segi penerapannya dan lain sebagainya.   Dengan tinjauan global tentang metodologi tersebut diatas tampaknya disiplin ini sangat perlu sekali dipelajari dan dihayati terutama dalam kaitannya dengan sikap kita sebagai bagian dari lingkup akademisi. Hal ini dapat dilacak dari tuntutan normatif metode-metode sendiri yang sangat terkait dengan operasionalitasnya. Artinya, metode dapat difungsikan secara optimal jika subyek peneliti memiliki sikap yang senantiasa skeptis, yakni selalu mempertanyakan dan mengkritisi setiap dimensi dari permasalahan (obyek); bersikap obyektif, yakni lebih mengedepankan kondisi obyek yang diteliti daripada pertimbangan-pertimbangan subyektifitas; bersikap rasional, yakni memiliki kesabaran intelektual dalam menyikapi setiap permasalahan meskipun terkait dengan situasi riil dirinya sendiri; bersikap lugas (transparan), yakni berani memberikan argumentasi atau pembuktian secara gamblang dan jelas; dan lain sebagainya. Keseluruhan sikap ini jika dihayati sebagai bagian dari integritas diri tentu saja akan melahirkan sikap yang profesional dibidangnya (yakni keilmuan yang tengah didalamnya). Sebab kadangkala obyek yang obtainable dan metode yang compatible terpaksa tidak memberikan kualitas hasil pengetahuan yang valid dan reliable lebih dikarenakan kualitas subyek peneliti yang tidak memiliki profesionalitas yang cukup adekuat. Disinilah urgensitas membangun integritas diri sebagai akademisi dituntut.  

3. Penutup

Demikian deskripsi singkat tentang pengantar metodologi yang barangkali dapat disimpulkan tentang beberapa hal, bahwa metodologi sebagai disiplin pengetahuan memang memiliki kedudukan yang sangat unik dan khas. Karena keunikan dan kekhasan inilah para ilmuwan sering berbeda pendapat dalam menentukan jenis pengetahuannya. Meskipun demikian secara garis besarnya metodologi sering dianggap sebagai ilmu tentang metode-metode, yakni dengan menekankan pada aspek operasionalnya, sedangkan yang lain menganggap sebagai pengetahuan logika dari ilmu-ilmu yang ada, yakni yang menekankan pada aspek konseptualnya. Dan ada yang menganggap bahwa metodologis adalah filsafat ilmu karena dalam kajiannya berusaha menggolongkan tipologi metode-metodenya berdasarkan karakterisitik pengetahuannya. Pemahaman terhadap metodologi ini pada gilirannya dapat merangsang timbulnya sikap yang profesional akademisi di bidangnya.      

[1] Disiplin ini diduga timbul untuk membedakan tipe metodis antara pengetahuan teologis, filsafat dan ilmu-ilmu positif. Sebagian ahli menyebutkan bahwa metodologi berkembang secara pesat pada abad ke 16 , yakni Masa Pencerahan (enlightmen era) paska renaissance yang dipelopori oleh Galileo Galilie (1564-1642) dan Francis Bacon (1561-1626).

Oleh Miftahuddin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar