Sabtu, 26 Februari 2011

Pemikiran Mazhab Frankfurt


Pengertian Tentang Teori Kritis dan Sejarah Pemikiran Mazhab Frankfurt
Istilah Teori Kritis sudah lama diterapkan dalam rentang yang sangat luas terhadap beberapa teori dan disiplin ilmu yang berbeda. Dalam arti sempit, Teori Kritis merujuk kepada pandangan yang diusung oleh Mazhab Frankfurt terutama tulisan-tulisan awal yang dibuat oleh Max Horkheimer, Theodor W Adorno dan Herbert Marcuse. Teori Kritis sendiri didefinisikan sebagai jenis teori sosial yang berasal dari para pemikir Marxis Barat di Institut Riset Sosial, Universitas Frankfurt. Itulah sebabnya gagasan Teori Kritis juga disebut sebagai gagasan Mazhab Frankfurt. Generasi pertama dari Mazhab Frankfurt selain Horkheimer, Marcuse dan Adorno juga adalah Walter Benjamin, Erich Fromm, Leo Lowental, Franz Neumann, Otto Kirchheimer dan Frederick Pollock. Dengan demikian, sebagai program multidisiplin dari filsafat hingga sejarah dan ilmu sosial pemikiran Teori Kritis mendapat banyak pengaruh dari Immanuel Kant dan Neo-kantianisme, Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan idealisme Jerman, Marx Weber serta Sigmund Freud. Hanya saja Teori Kritis lebih dipahami sebagai pembaruan gagasan Marxisme yang terinspirasi dari tulisan-tulisan Georg Lukács dan Karl Korsch. Marxisme yang diperbaharui ini berangkat dari perubahan realitas sejarah dalam kapitalisme modern dan integrasi wilayah keilmuan yang sudah sepenuhnya ditinggalkan oleh Marxisme tradisional seperti filsafat dan teori politik, studi budaya dan psikologi sosial. Menjelang Perang Dunia II berlangsung seraya dengan kebangkitan Sosialisme Nasional di Jerman, tahun 1933 Institut pindah ke Jenewa dan kemudian tahun 1934 pindah Amerika Serikat hingga akhirnya kembali ke Jerman pada tahun 1950.
Gagasan awal Teori Kritis dililhami oleh tulisan Karl Marx yakni Theses on Feuerbach. Dalam tulisan tersebut Marx menyatakan bahwa para “filsuf memberi banyak interpretasi yang berbeda terhadap dunia, namun yang terpenting adalah bagaimana mengubah dunia”. Dalam hal ini Teori Kritis menolak upaya positivisme logis untuk menemukan atau menerapkan hukum universal ke dalam ilmu sosial. Positivisme logis menyatakan bahwa ilmu pengetahuan atau sains modern telah direduksi secara total menjadi sistem administrasi yang semata-mata bersifat rasional dan teknologi murni.
Berbeda dengan Marx, untuk menghadapi hal tersebut Teori Kritis lebih berfokus kepada suprastruktur dibandingkan basis ekonomi dari masyarakat. Selain itu Teori Kritis juga menekankan pandangan terhadap nilai-nilai moral, politik dan agama. Di sini dipahami bahwa Teori Kritis memiliki klaim bahwa pengetahuan bersifat relatif terhadap kepentingan manusia dan oleh sebab itu diperkenalkan suatu rentang yang luas dari kritisisme budaya ke dalam teori sosial Marxis. Teori Kritis bermaksud menelanjangi pemahaman yang keliru dan melekat tentang persepsi akal budi ideal pada kondisi sosial politik masyarakat kapitalis. Dengan demikian Teori Kritis berupaya untuk mengidentifikasi kemungkinan perubahan sosial, sekaligus mempromosikan bentuk refleksi diri dan masyarakat yang bebas dari dominasi. Dengan demikian, Gagasan dasar Teori Kritis adalah untuk menjembatani jurang antara riset substantif dan filsafat. Teori Kritis ingin menggabungkan kedua cabang pengetahuan tersebut ke dalam satu bentuk refleksi yang mengambil model filsafat sejarah Hegel. Untuk bisa mencapai hal tersebut, maka sangat diperlukan teori sejarah yang mampu menjelaskan kekuasaan efektif dari akal budi yang bersandar kepada prosesnya sendiri. Asumsi dasar dari konsep filsafat sejarah semacam itu berasal dari gagasan Max Horkheimer dan Herbert Marcuse yang memiliki akar tradisi pemikiran Marxis.
Menjadi catatan bahwa yang membedakan Teori Kritis dengan gagasan Marxis pada awalnya adalah bukan prinsip-prinsip teoritis, melainkan obyektif atau tujuan secara metodologis yakni semacam pengakuan terhadap ilmu empiris. Itulah sebabnya adalah satu tujuan Teori Kritis juga berupa penggabungan kerja secara sistematis dari seluruh riset disiplin ilmu-ilmu sosial ke dalam teori masyarakat yang bersifat materialistis. Hal ini dianggap akan mampu memfasilitasi percampuran antara ilmu sosial yang bersifat akademis dengan teori Marxis.
Masa Awal Pemikiran Teori Kritis: Horkheimer, Marcuse dan Adorno
Hingga tahun 1930-an Horkheimer  dan Marcuse  masih mempertahankan versi klasik teori sejarah Marxis, yang mempercayai bahwa pembangunan kekuatan produktif adalah menjadi mekanisme sentral dari kemajuan sosial. Dengan sendirinya Teori Kritis harus bergabung ke dalam suksesi historis semacam itu sebagai sarana pengetahuan masyarakat. Baik Horkheimer maupun Marcuse, masih menempatkan Teori Kritis sebagai sarana untuk kemungkinan dimana situasi sejarah akan matang dengan sendirinya.
Ternyata pada saat yang sama, Horkheimer dan Marcuse ternyata sudah tidak percaya bahwa rasionalitas yang melekat pada kekuatan produksi masyarakat kontemporer juga terekspresikan di dalam kesadaran revolusioner para proletariat. Kerja mereka berdua dipengaruhi oleh fakta bahwa naiknya integrasi kelas pekerja ke dalam sistem kapitalis modern seperti yang dibayangkan Marx telah membuat kehilangan target sosialnya. Bagi Horkheimer, tujuan dari semua aktivitas riset institutnya adalah pertanyaan bagaimana mekanisme fisik menjadi mungkin di antara ketegangan antar kelas sosial dan bagaimana mekanisme fisik semacam itu menjadi konflik karena situasi ekonomi yang berlarut-larut. Pencapaian yang dibuat oleh Horkheimer adalah membuat program riset Institut atas dasar pertanyaan terhadap bentuk kapitalisme baru yang terintegrasi di dalam terminologinya secara spesifik dan berhubungan dengan disiplin ilmu empiris. Program itu menjadi panduan kerja Institut yang berakar kepada tiga disiplin ilmu yakni (1) analisis ekonomi dari fase posliberal kapitalisme yang digagas olef Friedrich Pollock, (2) investigasi psikologi sosial dari integrasi individu melalui sosialisasi oleh Erich Fromm dan (3) analisis budaya dari dampak kebudayaan massa berkonsentrasi kepada industri kebudayaan yang baru tumbuh oleh Theodor W Adorno dan Leo Lowenthal.
Kemudian Hoirkheimer masih berupaya meyakinkan kerja riset Institut sebagai refleksi bentuk intelektual yang berkaitan dengan gerakan buruh. Ini dilakukannya karena Horkheimer yakin terhadap konsepsi positif tentang kondisi emansipasi yang membuat kekuatan produksi bebas dari bentuk kapitalistik di dalam organisasi mereka. Pada akhir tahun 1930-an, gagasan ini sepenuhnya runtuh karena dalam politik praktis yang terjadi adalah kebudayaan massa kapitalis bergabung dengan fasisme atau Stalinisme untuk membentuk kekuatan yang sepenuhnya totaliter. Dalam perspektif teori, hal ini berarti perubahan konsepsi positif yang diyakini Horkheimer menjadi model negatif dari tenaga kerja sosial. Oleh karena itu menjadi pertanyaan selanjutnya tentang bagaimana kemungkinan mengubah relasi sosial yang ada dengan sarana berupa revolusi politik.
Barulah Theodor W Adorno  yang kemudian melahirkan konsep baru dari Teori Kritis. Gagasan Adorno diawali dengan pengalaman historis yakni fasisme sebagai produk gagal dari kebudayaan yang membuatnya begitu skeptis atas gagasan materialisme historis. Hal ini dipertajam pula oleh keraguannya terhadap rasionalisme sempit dari tradisi teori Marxis, sehingga Adorno berupaya untuk menghasilkan metode interpretasi yang bersifat estetis dari filsafat sejarah materialisme. Pada tahun 1947, Adorno bersama Horkheimer menulis The Dialectic of Enlightenment sebagai ekspresi motif intelektual baru dalam filsafat negatif dari sejarah. Mereka menyatakan bahwa totalitarianisme tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari konflik antara kekuatan dan hubungan produksi. Totalitarianisme merupakan hasil dari dinamika internal bentuk kesadaran manusia. Pendapat Adorno dan Horkheimer berangkat dari kerangka bahwa teori kapitalisme dan proses peradaban seluruhnya adalah merupakan sebuah sistem referensi yang menyatu. Dalam konteks ini fasisme muncul sebagai tahapan sejarah akhir dari logika pembusukan (logic of decay) yang bersifat inheren pada bentuk awal mula eksistensi spesies itu sendiri. Proses peradaban  mengambil bentuk spiral yang bergerak sebagai tindakan asli manusia yang berupaya menaklukan alam dan mencapai konsekuensi logis di dalam fasisme. Salah satu kesimpulan yang ditulis di dalam The Dialectic of Enlightenment adalah penyangkalan dari setiap dimensi kemajuan peradaban termanifestasi dalam bentuk intensifikasi kekuatan produksi. Selain itu, dinyatakan pula bahwa setiap bentuk praktek politik praksis adalah tindakan yang berorientasi kepada kontrol sehingga praktek politik harus dikeluarkan dari ranah alternatif yang bersifat positif. Dengan demikian terlihat bahwa aktivitas lingkaran terdalam dari para periset Institut mengabaikan sebagai kemungkinan situasi aktivitas mereka di dalam politik yang bersifat nyata.
Dapat dilihat bahwa Horkheimer dan Adorno sebagai generasi awal Teori Kritis memiliki pandangan yang pesimis terhadap sejarah akal budi. Meski dipengaruhi oleh kecenderungan Weberian yang menekankan rasionalitas sebagai bentuk instrumental, mereka masih mengakui evaluasi positif ala Marx terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan tersebut dilihat sebagai inti dominiasi yang menyebar ke segala penjuru kehidupan dan pada prosesnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melumpuhkan agen potensial dari perubahan sosial. Istilah yang digunakan Horkheimer dan Adorno adalah masyarakat yang diatur secara total (totally administered society) yang kemudian oleh Marcuse disebut sebagai manusia satu dimensi (one-dimensional man). Perluasan analisis Marx berupa pemujaan tubuh atau fetisisme disini bertujuan untuk menggugah kesadaran kritis manusia yang dianggap sudah redup oleh komersialisme pasca perang. Pada tahap ini Teori Kritis menjadi sarana yang tepat untuk memperlihatkan hal-hal yang menutupi penalaran manusia seperti reifikasi, hegemoni dan dominasi tanpa menawarkan alternatif positif darinya.
Pemikiran Teori Kritis Generasi Selanjutnya: Jürgen Habermas
Selain Karl-Otto Apel dan Albrecht Wellmer, adalah  Jürgen Habermas  yang menjadi generasi kedua Mazhab Frankfurt. Ambisi Habermas adalah menggantikan rasionalitas teknologi yang menguasai masyarakat modern dengan rasionalitas komunikatif yang mencapai konklusinya melalui diskusi dan dialog. Tujuan seperti ini berusaha diraih Habermas dengan cara mengubah penekanan filosofis dari hubungan subyek-obyek menjadi proses komunikasi intersubyektivitas. Habermas yakin bahwa dengan tindakan komunikasi semacam itu akan mencapai cita-cita teori kritis dan juga sekaligus membangun etika diskursus universal sebagai dasar evaluatif dari kritik sosial.
Berbeda dengan gagasan ‘masyarakat atau dunia yang diatur secara total’ oleh para pendahulunya, Habermas memiliki perbedaan teoritis dan orientasi secara mendasar. Karya-karya Habermas secara perlahan membentuk formasi teori yang merujuk kepada aksi sosial intersubyektivitas linguistik dengan gagasan antropologi filsafat dan hermeneutika yang dulunya dianggap asing oleh generasi pertama mazhab Frankfurt. Habermas kemudian sampai kepada premis yang dipengaruhi oleh filsafat hermeneutika dan analisis bahasa Wittgenstein, bahwa subyek manusia selalu terikat satu sama lain dengan sarana pengertian melalui bahasa. Dengan demikian bahasa menjadi sebuah kebutuhan fundamental yang mereproduksi kehidupan sosial. Melalui cara itulah Habermas mengkritik Marxisme yakni hasil konsepsi sejarah yang diperluas kedalam aksi teori. Jika bentuk kehidupan manusia dibedakan dengan sarana pengertian seperti bahasa, maka reproduksi sosial tidak dapat direduksi hanya menjadi dimensi tunggal ketenagakerjaan seperti yang ditulis Marx. Sebaliknya, dalam upaya mendominasi alam maka praktek bahasa yang menjembatani interaksi harus dilihat sebagai dimensi dasar yang setara dari perkembangan sejarah. Meski demikian, langkah Habermas dalam membangun teorinya tentang masyarakat baru terbentuk utuh ketika dua konsep aksi yakni ‘buruh’ dan ‘interaksi’ diasosiasikan dengan kategori yang berbeda dari rasionalitas. Dalam subsistem tindakan rasional di mana tugas tenaga kerja sosial dan administrasi politik diorganisasi, manusia beranjak melalui akumulasi pengetahuan teknis dan strategis. Dalam kerangka institusi itulah norma-norma terintegrasi secara sosial dan direproduksi. Manusia berkembang melalui pembebasan dari segala hal yang menghambat komunikasi.
Teori tersebut dikembangkan Habermas tahun 1970-an dan baru tahun 1981 dalam tulisannya Theory of Communicative Action, Habermas kembali mengembangkan gagasannya dalam bentuk yang sistematis untuk pertama kalinya. Gagasan Habermas itu merupakan hasil dari berbagai studi yang berwujud ke dalam teori tunggal yang menyebutkan bahwa rasionalitas komunikatif direkonstruksi dalam kerangka berupa tindakan yang dibangun atas dasar teori masyarakat. Hal ini dilakukan dengan mengkaji ulang teori masyarakat yang dikembangkan sejak Max Weber hingga Talcott Parsons dan akhirnya terangkum menjadi diagnosa kritis dari masyarakat kontemporer.
Dengan demikian apa yang dikerjakan Habermas merupakan usaha untuk mengubah paradigma secara mendasar dari filsafat subyek menuju teori komunikasi dan dari rasionalitas sarana-tujuan menuju rasionalitas yang komunikatif. Habermas secara jeli melihat penyakit modernitas tidak bersumber kepada rasionalisasi semata tetapi pada satu sisi yang dikendalikan oleh kekuatan ekonomi dan administratif. Itulah sebabnya alternatif obat yang ditawarkan adalah demokratisasi opini publik yang akan membentuk ruang publik (public sphere) di mana isu-isu umum akan diperdebatkan secara kritis dan rasional.
Kritik Terhadap Teori Kritis
Teori kritis Habermas di satu sisi secara ideal menawarkan demokratisasi opini publik dalam menuju rasionalitas komunikatif. Dalam masyarakat modern hal tersebut secara sederhana bisa diterima sebagai upaya dalam memperoleh kesetaraan melalui proses dialog dan diskursus sehingga pada satu titik menghasilkan juga konsep baru seperti demokrasi deliberatif. Akan tetapi dalam realitasnya ternyata tidak semudah itu. Ada beberapa argumen keberatan yang menjadi kritik terhadap teori kritis yang diusung oleh Habermas. Pertama, dalam masyarakat modern seperti sekarang ini, proses komunikasi sudah berjalan dalam ranah hiperealitas sehingga bentuk rasionalitas komunikatif yang dibayangkan Habermas menjadi sulit diwujudkan. Masyarakat mampu bertindak irasional karena anonimitas yang terjadi dan identitas ditengah ruang publik menjadi sesuatu yang bersifat semu. Dalam model seperti ini yang terjadi adalah pemiskinan imajinasi sehingga sangat sulit untuk bisa menjadi rasional dan obyektif.
Keberatan yang kedua adalah, ruang publik dalam pemahaman masyarakat modern adalah ajang diskursus yang setara dan dialogis. Pada kenyataannya dialog yang terjadi di dalam ruang publik yang nyata adalah sesuatu yang tidak setara dan tidak juga bersifat dialogis. Ini terjadi tidak saja di negara-negara berkembang melainkan juga di negara maju. Dominasi yang dibayangkan oleh generasi pertama Teori Kritis rupanya masih tetap terjadi. Alhasil, proses dialog yang macet menyebabkan publik tidak lagi memanfaatkan ruangnya secara nyata. Kemajuan teknologi seperti internet dan komunikasi virtual menjadi katarsis publik dalam menggelombangkan wacananya sebagai pembentukan opini yang tidak lagi bersifat dialogis tetapi menjadi tandingan terhadap kekuasaan.
Keberatan yang ketiga adalah, dengan demikian faktor teknologi yang menyebabkan pesimisme akan ketergantungan manusia terhadap sarana-sarana ekonomi seperti yang dibayangkan oleh generasi pertama Teori Kritis juga masih tetap terjadi. Di sini dapat dilihat bahwa apa yang dikemukakan oleh Habermas masih belum dapat memberikan alternatif jawaban yang memuaskan mengingat perkembangan Teori Kritis masih harus berkompetisi dengan realitas masyarakat, terutama dari aspek kemajuan teknologi, perubahan dimensi ruang publik dan juga harapan terhadap rasionalitas komunikatif yang ideal bagi manusia itu sendiri. Kemajuan teknologi jelas memberi kontribusi berupa akselerasi penerimaan dan juga cara manusia mengekspresikan kehendaknya. Ruang publik tidak lagi semata berkutat kepada masalah penggunaannya yang ideal tetapi juga bagaimana pergeseran dimensi dari sesuatu yang bersifat fisik menuju dunia maya juga menjadikan rasionalitas sebagai faktor yang tidak lagi dengan mudah dapat diperhitungkan. Sementara rasionalitas komunikatif yang dibayangkan Habermas dengan demikian menjadi jauh untuk bisa direalisasikan dengan mudah.

oleh Miftahuddin
Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar